Our Mobile not a GARBAGE BIN (1)

Apa yang ada di benak anda saat saya menyebut tempat sampah? Standard-nya she orang terpikirkan jorok, bau, dan kotor…Kecuali tempat sampah baru yang belum pernah dipakai kali yah…. Postingan saya kali ini akan mengangkat tentang Mobile SPAM, memenuhi janji saya ke salah satu teman yang sudah mau mengirimkan komentar di blog ini. (thanks bow..). Sebelumnya saya menginformasikan, tulisan ini akan saya bagi ke dalam beberapa bagian, supaya anda lebih nyaman membacanya.

Mungkin anda sudah mengalaminya langsung, menjadi korban SPAM di ponsel anda, dan memang rasanya menyebalkan. Mobile SPAM adalah kiriman pesan informasi produk atau perusahaan ke sejumlah nomor ponsel, TANPA ANDA MINTA ATAU INGINKAN, dalam bentuk apapun. Jadi yang biasa kita alami di Indonesia adalah voice spam dan sms spam, contohnya : Pernahkah anda ditelpon oleh agen asuransi atau sales kartu kredit, yang menawarkan produknya, dan dalam hati anda bingung dari manakah orang ini mendapatkan nomor ponsel anda, inilah Voice Spam. Selain itu yang sering terjadi juga adalah SMS SPAM, dimana anda mendapatkan sms dari operator, content provider, Bank, Resto, dll, yang memberikan informasi produk mulai dari potongan harga, quiz, hingga ring back tone, tanpa kenal waktu, entah itu pada saat anda makan, meeting, bahkan sedang tidur….

SPAM memang sudah dikenal dalam industri online, dimana e-mail menjadi alat utama untuk menyebarkan iklan ke sekian banyak e-mail sekaligus, dan di industri mobile marketing yang baru saja berkembang, hal ini juga sudah menjadi sebuah momok yang menakutkan. Pada kenyataannya dalam perkembangan mobile marketing di Indonesia, hal ini sudah terjadi, dan untuk menyelamatkan industri yang sangat prospektif ini diperlukan beberapa cara. Salah satunya adalah peraturan pemerintah yang bisa mengatur mengenai SPAM ini, padahal di Indonesia hanya ada 1 ayat yang mengatur tentang jasa layanan seperti SMS Promosi yaitu pada Bab II tentang Fitur jasa tambahan pasal 2 ayat 3, Permen Kominfo no 24 tahun 2005, yang berbunyi :
“Dalam hal pelanggan akan dikenakan biaya tambahan atas penggunaan layanan fitur jasa tambahan atas penggunaan layanan fitur jasa tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2), Penyelenggara Jaringan Tetap dan Penyelenggara Jaringan Bergerak wajib terlebih dahulu menyampaikan informasi lengkap tentang jenis layanan manfaat atas layanan fitur jasa tambahan tersebut, serta harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari pelanggan”
(dikutip dari Majalah Seluler edisi Oktober 2007)

Yang saya baca, peraturan ini bukan mengatur tentang informasi yang masuk ke dalam ponsel kita, tapi mengatur tentang layanan tambahan seperti SMS Premium. Kalau mau dibandingkan dengan Amerika yang sudah melindungi konsumennya dari SPAM baik melalui email maupun ponsel, dengan undang undang CAN-SPAM 2003 (Controlling the Assault of Non Solicited Pornography and Marketing Act), Indonesia sangat tertinggal jauh. Mungkin kebiasaannya di Indonesia, kalau sudah menjadi masalah yang besar, banyak pihak yang mengajukan keberatan, barulah mau dibuat rancangan peraturannya (baru rancangan loh), dan sidang sini sidang sana, menghabiskan waktu berbulan bulan, barulah keluar peraturannya.

Mobile Marketing merupakan bayi yang masih belajar berjalan, dan kalau dibiarkan berjalan di tempat yang tidak aman, tentu akan membahayakan nyawa bayi itu. Sudah ada beberapa kasus yang terjadi secara nyata di masyarakat seperti Premium Call 0809 xxxxxxxx, yang saat ini sudah identik dengan telpon esek esek, padahal saya pernah punya teman seorang paranormal yang membuka konsultasi melalui jalur premium call. Tapi karena image yang sudah terbentuk di masyarakat sudah seperti itu, tentu akan sulit bagi industri-nya untuk berkembang. Hal ini juga bisa terjadi di industri content provider yang menyediakan layanan SMS Premium, karena identik dengan penyedot pulsa, dan informasi-nya kurang memiliki value, padahal masih banyak layanan SMS Premium yang memberikan informasi dengan value sangat tinggi, seperti layanan indeks saham, kurs, tips motivasi dan lainnya.

Di sinilah tantangan dari industri Mobile Marketing di Indonesia, dimana kita bisa berkaca pada beberapa pengalaman industri ini di luar negeri, ataupun berkaca pada industri lainnya yang sudah ada di Indonesia. Lalu bagaimana kita menjalankan mobile marketing tanpa melakukan SPAM, tunggu postingan berikutnya yah………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: